Hujan, Harapan, dan Langkah Pertama: FASI Perdana Bangkitkan Semangat Qur’ani di Pante Bidari

Aceh Timur — Langit Kecamatan Pante Bidari seolah enggan cerah sejak Jumat sore. Hujan turun tanpa jeda, menelusuri atap-atap rumah, mengalir di sepanjang parit, dan membasahi halaman Kantor Camat yang menjadi pusat kegiatan masyarakat selama tiga hari terakhir. Namun malam Senin itu berbeda—meski genangan belum surut, ada cahaya yang tidak bisa dipadamkan cuaca.

Ratusan warga datang satu per satu. Ada yang menenteng payung, ada yang menggendong anak, ada pula yang tetap duduk di kursi plastik walau pakaian mereka mulai basah. Mereka tidak hanya menonton sebuah acara, tetapi menyaksikan sejarah kecil tercipta di kecamatan mereka sendiri, Untuk pertama kalinya, Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) digelar di Pante Bidari.

Di atas panggung sederhana yang dihiasi kain hijau dan putih, anak-anak berdiri dengan langkah kecil namun penuh keyakinan. Suara mereka kadang bergetar, tetapi mata mereka memancarkan keberanian yang jarang terlihat.

Tilawah menggema di antara rintik hujan. Ada yang terbata, ada yang begitu lancar, namun semuanya mendapat tepuk tangan yang sama meriah. Dalam lomba azan, seorang anak terlihat menahan gugup — tangan kirinya bergetar, tetapi ketika suara takbir pertama keluar, ratusan kepala menengok serempak, dan suasana tiba-tiba menjadi hening.

Bagi sebagian orang, ini hanya perlombaan. Tapi bagi Pante Bidari, ini adalah tanda bahwa pendidikan agama yang dulu berjalan terpisah-pisah kini mulai bergerak dalam satu arah.

Dari total 25 gampong, baru 13 yang mampu mengirim peserta. Meski belum sepenuhnya merata, keikutsertaan tahun ini terasa seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.

Saat malam penutupan tiba, Camat Pante Bidari tampil memberikan sambutan. Tidak ada kalimat mewah atau retorika panjang, tetapi ada keyakinan yang kuat dalam suaranya.

"Ini bukan acara satu kali lewat. Insya Allah tahun depan dan seterusnya FASI akan terus berlanjut, dengan keterlibatan seluruh gampong. Pendidikan agama harus dibangun sejak dini dan secara bersama, ujarnya, disambut anggukan para keuchik dan pembina TPA.

Masyarakat tahu—mengumpulkan anak-anak, menggerakkan TPA, dan mempersiapkan peserta bukan pekerjaan sehari. Tapi ucapan itu seperti menanam benih yang siap tumbuh perlahan.

Di belakang panggung, Urija — perwakilan panitia — terlihat lega. Sejak hari pertama, ia bersama rekan-rekannya berjibaku dengan segala keterbatasan: lokasi yang berubah karena cuaca, jadwal yang menyesuaikan, hingga memastikan anak-anak tidak kehujanan saat menunggu giliran.

"Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dari awal sampai penutupan. Ini pengalaman pertama bagi kita semua, dan insya Allah akan lebih baik pada tahun berikutnya. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung, ucapnya singkat.

Tidak ada yang disorot dari panitia, tetapi kerja mereka terasa di setiap detail yang berhasil terselesaikan tanpa keributan.

Ustat Munadi, Ketua KAU Pante Bidari, menilai penyelenggaraan perdana ini bukan hanya keberhasilan teknis, tetapi titik balik pembinaan keagamaan di tingkat desa.

"Anak-anak sudah menunjukkan kemampuan dan keberanian yang luar biasa. Semoga ini menjadi motivasi bagi seluruh gampong untuk lebih aktif membina TPA dan kegiatan keagamaan. Insya Allah tahun depan partisipasinya akan semakin luas, ujarnya.

Bagi para pembina TPA, ini bukan tentang piala — tetapi tentang menanam karakter sejak kecil, agar generasi Qur’ani tidak hanya lahir, tetapi bertahan.

Di antara kerumunan, seorang ibu terlihat menyeka air matanya ketika putranya selesai membaca hafalan surah pendek. Ia tidak menunggu pengumuman pemenang — baginya keberanian anaknya sudah menjadi kemenangan.

anak yang turun panggung sambil menutupi wajah karena malu,
orang tua yang memeluk anaknya meski hujan semakin deras,
peserta yang saling memberi semangat meski berasal dari gampong berbeda.
Tidak tercatat dalam berita, tetapi disimpan dalam hati mereka yang hadir.

Acara ditutup dengan pembacaan doa. Tidak ada kembang api, tidak ada pesta besar — hanya lantunan amin yang mengalun serempak, lalu sesi foto bersama yang memadati panggung.

Para juara menerima piala dan hadiah pembinaan dari sejumlah cabang: tilawah, azan, hafalan surah pendek, meusaba, hingga ceramah cilik.

Namun lebih dari itu, yang mereka bawa pulang adalah rasa percaya diri bahwa suara kecil mereka bisa didengar.

Saat hujan akhirnya mulai reda, masyarakat mulai meninggalkan lokasi dengan langkah pelan. Kantor camat kembali sunyi, lampu panggung dipadamkan, kursi-kursi dilipat.

FASI pertama mungkin telah resmi ditutup —
namun semangat yang dibangkitkannya baru saja dimulai.

Tahun depan, Pante Bidari tidak ingin hanya menjadi tuan rumah, tetapi menjadi kecamatan yang siap mengirimkan peserta terbaik ke tingkat kabupaten. Dan lebih dari itu, tidak ada satu pun gampong yang dibiarkan tertinggal.

Karena malam itu, Pante Bidari bukan hanya menutup acara —
tetapi membuka pintu masa depan bagi generasi Qur’ani yang sedang tumbuh.


Reporter: ZAS

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama